Krama Istri Panjat Pinang, Tradisi Unik dalam Karya Agung di Desa Pulukan

Krama Istri Desa Adat Pulukan memanjat pohon pinang, yaitu tradisi unik dalam serangkaian Karya Agung Ngenteg Linggih dan Ngusaba Desa yang digelar puncaknya pada hari Rabu, 6 September 2023. PHOTO CREDITS: Info Pulukan

JEMBRANA, NETIZENBALI.com - Bali, pulau yang terkenal dengan keindahan alam dan budayanya, memiliki banyak tradisi dan upacara adat yang menarik untuk diketahui.

Desa Adat Pulukan salah satunya, desa yang terletak di Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana telah menggelar Karya Ngenteg Linggih lan Ngusaba Desa, Tawur Walik Sumpah lan Pedudusan Agung Menawa Ratna.

Rangkaian upacara ini telah berlangsung sejak 3 Juli hingga 10 September 2023 mendatang. Adapun puncak karya telah dilaksanakan pada Buda Kliwon Pahang, 6 September 2023. 

Ngusaba Desa

Salah satunya adalah ngusaba desa, sebuah upacara besar yang dilakukan oleh masyarakat desa adat untuk mengucap syukur kepada Tuhan dan memohon keselamatan, kesejahteraan, dan kesuburan.

Ngusaba desa biasanya dilakukan setiap satu atau tiga tahun sekali, tergantung dari siklus pertanian dan keputusan desa adat. Ngusaba Desa memiliki berbagai macam bentuk dan tradisi, sesuai dengan karakteristik dan kearifan lokal masing-masing desa. 

Salah satu desa adat yang baru saja melaksanakan karya agung adalah Desa Adat Pulukan, yang terletak di Kabupaten Jembrana. Desa ini memiliki tradisi unik dalam serangkaian puncak Karya Ngenteg Linggih yang telah berlangsung, yaitu krama istrinya memanjat pinang.

Krama istri adalah sebutan untuk perempuan yang sudah menikah di Bali. Mereka berperan aktif dalam serangkaian karya di desa adat dengan cara memanjat pinang yang telah disiapkan di halaman pura.

Pinang adalah sejenis pohon yang memiliki batang lurus dan tinggi, serta berkulit kasar di sepanjang batangnya. Pinang juga merupakan bahan utama untuk membuat sirih pinang, sebuah campuran daun sirih, kapur, dan buah pinang yang biasa dikunyah oleh masyarakat Bali sebagai obat tradisional dan simbol persaudaraan.

Pinang juga memiliki makna simbolis dalam ngusaba desa, yaitu sebagai lambang kesucian, kesetiaan, dan keberanian.

Proses memanjat pinang oleh krama istri tidaklah mudah. Mereka harus berjuang melawan rintangan, serta keseimbangan tubuh mereka di atas batang pinang yang licin. Mereka juga harus berlomba dengan krama istri lainnya untuk mencapai puncak pinang, dimana terdapat hadiah-hadiah yang telah disediakan oleh panitia ngusaba desa. Hadiah-hadiah tersebut biasanya berupa uang, pakaian, perhiasan, atau barang-barang lainnya yang bernilai.

Tujuan dari krama istri panjat pinang adalah untuk menghibur masyarakat yang menyaksikan karya agung, sekaligus untuk menguji keberanian dan ketekunan mereka dalam menghadapi tantangan hidup.

Selain itu, krama istri panjat pinang juga merupakan bentuk penghargaan kepada para leluhur yang telah membangun desa adat dengan susah payah. Dengan demikian, krama istri panjat pinang menjadi salah satu tradisi yang menjaga nilai-nilai luhur budaya Bali. (NB)


TAGS :

Related Articles

- Tirta Kamandalu: taking a nectar of life in the middle of the ocean

- Joged Tabanan Vs Jembrana rocked the audience in Pengeragoan

- 'Magibung' introduced by the king of Karangasem

- Bali's kite festival in the sirkuit all in one

- [IN PICTURE] Ngaben ceremony in Bali's west coast

Komentar