‘Margadarshakah’ Gambelan Beleganjur Bali Jadi Tren Velocity di Tiktok

DENPASAR, NETIZENBALI.COM - Fenomena viral Velocity di TikTok kini mengemuka, menghadirkan elemen baru yang menyita perhatian: suara khas gambelan baleganjur Bali berjudul Margadarshakah. Dengan irama dinamisnya, karya ini berhasil menjadi backsound favorit di platform tersebut. Namun, seperti apa kisah unik di balik popularitasnya?
Kisah di Balik "Margadarshakah"
Margadarshakah adalah karya kreatif dari pemuda Sekaa Gong Gita Swara Dharma Kanti di Banjar Pitik, Pedungan, Denpasar. Komposisi ini pertama kali dirilis pada Juli 2024 untuk lomba Masikianfest yang diselenggarakan oleh Yowana Kota Denpasar. Dalam waktu hanya dua minggu, sekitar 25–30 penabuh bekerja keras menyempurnakan garapan ini. Hasilnya tidak hanya meraih juara pertama di Bali, tetapi juga menjadi simbol inovasi dalam musik tradisional.
Menurut salah satu komponisnya, Putu Gede Bramasta Yoga, inspirasi Margadarshakah muncul secara spontan, tetapi memiliki akar mendalam dalam tradisi Hindu Bali. "Kami terinspirasi dari tradisi beras kuning (sekar ura) dan Manuk Dewata, burung cendrawasih yang dipercaya sebagai pengantar arwah ke Nirwana," ungkapnya dalam wawancara yang dilansir dari tribun-bali.
Irama khas dalam garapan ini, yang sebelumnya digunakan pada tahun 2016 oleh I Made Subawa, diadaptasi dan disempurnakan dengan konsep baleganjur ngarap. Hasilnya adalah perpaduan ritmis yang mampu menggerakkan siapa pun yang mendengarnya.
Viral Tanpa Disangka
Viralitas di TikTok datang sebagai kejutan. Bramasta mengakui dirinya tidak menyangka komposisi ini digunakan sebagai backsound tren Velocity hingga teman-temannya menandainya di unggahan TikTok. "Rasanya luar biasa melihat begitu banyak orang menghargai karya kami," ujarnya dengan haru.
Makna dan Dampak Budaya
Lebih dari sekadar viralitas, Margadarshakah menjadi bukti bahwa warisan budaya dapat tetap relevan bagi generasi modern. Selain memperkenalkan seni gambelan Bali ke ranah global, karya ini mengingatkan pentingnya gotong royong dan semangat kolektif, sebagaimana terlihat dalam proses kreatifnya yang melibatkan banyak pihak.
"Semoga dengan viralnya karya ini, seni dan budaya Bali bisa semakin dikenal dunia," kata Bramasta menutup wawancara. Dan seperti nama Margadarshakah yang berarti "penuntun", karya ini menjadi pemandu bagi tradisi menuju relevansi di era digital. (NB)
Related Articles
- Pawai Ogoh-Ogoh PAUD di Jembrana, Ajang Tanamkan Budaya Sejak Dini
- SMSI Badung Temui Ketua DPRD, Fokus pada Masa Depan Pariwisata Bali
- Pemkab Jembrana Luncurkan Layanan Jemput Pasien, Cek Syaratnya
- Warteg Gratis Alfamart, Berbagi dan Memberdayakan UMKM di Ramadan 2025
- SMSI Bali Rayakan HUT ke-8 dengan Kesederhanaan, Ketua Tekankan Etika dan Marwah Organisasi