Damai Itu Terjadi Jika Ada Trust di Antara Kita, Bali Jadi Ruang Refleksi Perdamaian
- Reporter : Eka J. Artawan
- Editor : Angga
BADUNG, NETIZENBALI.COM — Bali kembali menjadi ruang perjumpaan berbagai gagasan global dengan nilai-nilai lokal dalam upaya membangun perdamaian dunia. Pesan tersebut mengemuka dalam Tri Hita Karana Universal Reflection Ceremony 2026 yang digelar di Sunset Mandala, Sira Village, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali, Sabtu (5/9/2026).
Mengusung tema “Holding Space for Peace: Peace Within, Peace Among Us, Peace with All Life”, kegiatan ini menjadi ruang refleksi bersama mengenai pentingnya membangun perdamaian, mulai dari dalam diri, hubungan antarmanusia, hingga hubungan manusia dengan alam.
Wakil Presiden United In Diversity Foundation (UID), Suyoto, mengatakan pembangunan perdamaian menjadi semakin penting di tengah kondisi dunia yang menghadapi berbagai konflik dan persoalan lingkungan.
Ia menilai, menurunnya indeks perdamaian global seharusnya menjadi perhatian bersama. Konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia, menurutnya, tidak terlepas dari kepentingan politik maupun ekonomi.
“Mungkin kita tidak menyadari bahwa dunia sekarang indeks kedamaiannya itu turun. Kita bisa merasakan tiba-tiba ada perang, konflik, karena ada kepentingan bisnis, kepentingan politik. Tentu kita semua tidak menginginkan seperti ini,” ujar Suyoto saat ditemui awak media.
Menurutnya, persoalan perdamaian juga tidak dapat dilepaskan dari kondisi lingkungan. Perubahan iklim dan pemanasan global telah berkembang menjadi persoalan serius yang mengancam kemampuan bumi dalam menopang kehidupan manusia.
“Kalau alam kita sudah tidak sanggup menopang hidup manusia, lalu manusia mulai konflik satu dengan yang lain, di mana lagi kita bersama-sama menyelesaikan kehidupan manusia?” katanya.
Suyoto menegaskan, kompleksitas persoalan dunia saat ini tidak mungkin diselesaikan oleh satu pihak maupun hanya melalui pendekatan tertentu, seperti politik atau ekonomi.
“Ini zaman di mana segala permasalahan tidak mungkin diselesaikan oleh satu pihak. Zaman di mana tidak bisa dilakukan hanya dengan pendekatan teknik, ekonomi, politik semata-mata. Ini mesti seluruh umat manusia membangun kesadaran. Dan fondasinya adalah kedamaian,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa perdamaian membutuhkan kepercayaan atau trust di antara manusia. Perdamaian bukan sesuatu yang hadir secara instan, melainkan proses panjang yang membutuhkan keterbukaan, penerimaan terhadap perbedaan, serta komitmen untuk memberikan yang terbaik bagi kepentingan bersama.
“Damai itu terjadi apabila ada trust di antara kita. Damai itu ada proses, terus-menerus menerima perbedaan, saling memberikan yang terbaik bagi semuanya. Kita berdiri bersama-sama melihat realitas dunia,” pungkasnya. (NB)






Related Articles
- Emmanuel Dewata Oja Ingatkan Wartawan Kenali Batas Aman, Risiko Sengketa Hukum Meningkat
- Emanuel Dewata Oja Soroti “Parasitisme Konten” Homeless Media, Jangan Asal Repost
- Kemerdekaan Belum Menyapa Nasib Pahlawan Pangan yang Masih Terjebak Kemiskinan
- Di Balik Stan Pijat Pertuni, Ada Kejujuran yang Diam-Diam Menyentuh Hati
- Reorientasi MBG Demi Mewujudkan Kedaulatan Pangan dan Diversifikasi Lokal